Agustus 16, 2008

Divina Commedia: Wejangan Sang Guru




Kukabarkan sebuah kisah kepada rimba kata-kata. Bahwa ada roh yang tak terbahasa, yang mendesir, mengalir, mengemahi setiap pori; berupa darah. Sejengkal. Dua jengkal. Tiga jengkal. Lantas setiap inchi. Dan darah mengembun ‘bak keringat kuli bangunan di tengah terik.

Aku sudah lanjut usia, tetapi usia tua punya harkat dan keringat. Kematian memang menutup segala karena segala sesuatu terbatas, meski mungkin sebuah tugas mulia belum tuntas. Rintihan-rintihan menyayat bersahut-sahutan. Tapi belum terlambat. Tak amat terlambat untuk mencari dunia baru. Meski kini aku tak sekuat dahulu untuk menggerakan bumi dan langit, aku tetaplah sebuah jiwa yang heroik yang hanya bisa dilemahkan oleh waktu dan takdir. Kemauanku tetap kuat untuk sekuat tenaga mencari, menemukan, dan tak menyerah. Seandainya tirai kematian terbuka untukku dan tugasku belum tuntas, itulah tugasmu.

Kematian memang akhir kehidupan, tapi kematian tidak mampu menyelesaikan semua persoalan. Kematian hanyalah tirai tipis di mana yang hidup dan yang mati bisa saling memandang dan menertawakan. Sayangnya, lebih sering yang matilah yang mengamati mereka yang hidup, sementara yang hidup lebih sibuk dengan dunianya sendiri tanpa hirau terhadap yang mati. Aku akan mengamatimu dari balik tirai, apakah tugasku –yang juga tugasmu– engkau selesaikan.

Dan jika kau pengikut Dia, Guru dari segala guru, engkau harus tahu bahwa tidak ada damai dalam kayu palang yang kausebut salib itu, tetapi aku yakin kebangkitan adalah kebahagiaan karena salib adalah harapan.

Kini saatnya sudah dekat dan hampir tiba,
Rentaku menjadi tanda, dan gemeretak tulangku menjadi “nyanyian daun-daun” yang melantunkan seruan, “Ambillah cawan ini dari padaku.” Rintihanku kian mengangakan takdir untuk segera pulang ke tempat asalku.

Bersambung…



Ketika Senja

Senja, dunia perantara antara dua hukum alam yang berbeda yakni terang dan gelap, sudah memerahkan matahari di ufuk barat. Terang telah mulai meremang menuju ke kegelapan malam. Sementara rintik hujan seakan menjadi pemanis yang memberi nada-nada alam dan mengingatkan setiap jiwa untuk beranjak dari kesibukan dan segera pulang untuk berkumpul di tengah keluarga. Dalam situasi senja seperti ini batinku selalu gelisah, dan sepi selalu menyergapku. Pikiranku selalu melayang ke kampung halaman yang entah sudah berapa lama kutinggalkan.

Setiap senja kami sekeluarga biasanya berkumpul di sekitar tungku, setelah seharian bekerja di ladang. Ibu dengan kasih diamnya sibuk menyiapkan makan malam, ayah menikmati lintingan tembakaunya sambil sesekali meminum kopi hitam dari mug besar kesayangannya. Sementara kami, aku dan adikku, duduk di samping ayah sambil sesekali memasukan kayu bakar ke dalam tungku agar apinya terus menyala. Sebuah kehangatan kasih yang takkan pernah kulupakan dalam hidupku. Peristiwa ini hampir terjadi setiap senja.

Kini sudah lebih dari seperempat abad masa itu berlalu. Ayah dan ibuku kini telah menjadi sepasang renta yang tak mampu lagi menggarap ladang milik kami. Sementara adikku sudah mengembara ke ibu kota untuk mengais rejeki dan menemukan jati dirinya sebagai seorang pekerja lapangan sebuah Surat Kabar Ibu Kota. Dan aku, aku sudah lama mengembara ke berbagai kota dan pulau sebagai imam medior. Aku telah tersergap panggilan khusus untuk melayani Tuhan secara total dan radikal. Suatu pilihan gila di mata sebagian anak muda modern yang sudah terlampau asyik menikmati dunia gemerlap yang pragmatis dan hedonis.

Aku duduk di serambi pastoran sambil menikmati secangkir kopi. Pikiranku terus menerawang ke kampung halaman. Dan rinduku pada kedua orang tuaku sudah tak tertahankan lagi. Seperti senja-senja sebelumnya, mereka pasti sedang duduk di sekitar tungku dan mungkin sambil merindukan kami anak-anaknya yang sudah jarang pulang. Sambil menarik nafas panjang aku menjatuhkan pandanganku seberang jauh. Mataku mendongak menembus keremangan dan akhirnya terjatuh pada sebatang pohon yang mengering di kejauhan. Ranting-ranting pohon tersebut bagaikan tangan-tangan renta yang meranggas mengapai-gapai belas kasihan dari yang di atas. Seperti jari-jari tak berdaya yang menjulur memohonkan pertolongan dari langit. Dan aku semakin rindu kepada kedua orang tuaku.

Lamunanku sedikit terganggu dan kesadaranku kembali mendarat ketika sekilas aku melihat Pastor Sadi, pastor kepala paroki di tempat tugasku ini, menghampiriku. Wajahnya yang tua menggariskan kebijaksanaan yang senantiasa menjadi pesona umat di paroki ini. Namun demikian, wajah renta itu tak mampu pula menyembunyikan rasa lelah dan gelisahnya. Aku sudah bersiap membuka bibir untuk menyapanya, namun ketika aku semakin melihat gurat kelelahan dalam wajah pastor itu, aku kembali mengatupkan mulutku.

Kemudian ia duduk di sebelahku sambil mereguk segelas air putih. Aku tetap diam tak bereaksi atas kehadirannya. Sementara kami saling diam, pikiranku kembali melayang ke kampung halaman, dan wajah-wajah renta kedua orang tuaku semakin tajam di benakku. Ada apa dengan mereka, batinku.

“Pasti sedang ingat kampung halaman,” gumam Pst. Sadi membuyarkan lamunanku.
Aku hanya tersenyum sambil menyimpan rasa kagum atas kejituan tebakan pastor seniorku ini. Kami memang selalu terbuka dalam banyak hal sehingga kami bisa saling memahami satu sama lain. Tapi ketepatan tebakan Pst. Sadi tetap saja membuatku kagum.
“Entah kenapa sudah beberapa hari ini aku sangat merindukan kedua orang tuaku,” ujarku.
Pastor Sadi tersenyum.
“Tahun ini kamu kan belum megambil cuti. Cutilah dulu untuk menengok keadaan mereka.”
“Inginnya sih begitu, tapi saya kira sekarang bukan waktu yang tepat. Masih banyak pekerjaan yang masih harus kita kerjakan. Nanti selesai Muspas DPP mungkin saya baru akan cuti.”

Pastor Sadi menatapku sekilas. Lantas kami larut dari kesibukkan pikiran masing-masing.

*

Diam-diam aku memperhatikan rekan imamku yang usianya baru setengahnya dari usiaku. Hatiku sungguh terharu melihat semangatnya yang sangat membara. Meski sering tampak emosional, tetapi energinya yang dicurahkan untuk kebaikan umat selalu membuatku kagum. Seandainya aku bisa kembali muda. Meskipun beberapa rekan angkatannya sudah menanggalkan jubah mereka karena berbagai macam alas an, toh Tuhan tetap menanamkan benih-benih panggilan-Nya tanpa henti.

Pikiranku kembali terkenang pada salah seorang sahabatku yang juga pastor dua puluh tahun yang lalu yang sekarang telah menjadi bapak. Pastor itu, atau bapak itu, memutuskan meninggalkan imamatnya hanya gara-gara tersentuh oleh suatu pengalaman sederhana sepulang dari lingkungan. Pada suatu sore, ia pulang memimpin doa lingkungan, di tengah jalan ia melihat sepasang suami istri yang sedang duduk di depan rumah mereka sambil berbicara ringan. Si istri tampak sedang menyulam sesuatu semetara suaminya sedang menikmati pisang goreng sambil merokok. Sekali-kali mereka terlibat obrolan ringan sambil matanya mengawasi putri mereka yang sedang bermain di halaman. Pengalaman tersebut rupanya telah mengganggu pikiran sahabatku itu dan kemudian memutuskan untuk keluar dan mencari pasangan hidup yang lebih nyata.

* *

“Maaf Pastor. Kalau tidak keberatan untuk sharring, mengapa dulu Pastor ingin menjadi imam?” Tanya Pugag membuyarkan lamunan Pastor Sadi.
Pastor Sadi tersenyum, “Seharusnya saya yang bertanya kepada kamu, bukan kamu yang bertanya kepada saya,” kelakar Pastor Sadi. Pugag tersipu malu. Ia malu untuk mengatakan bahwa ia tertarik untuk menjadi imam pertama-tama karena melihat figur Pastor Sadi sendiri yang sungguh bijaksana dan arif dalam melayani umat tanpa pandang bulu.

“Dengan menjadi imam, saya telah membahagiakan seorang wanita,” timpal Pastor Sadi.
“Maksudnya, Pastor?” Pugag bertanya bingung.
“Kamu perhatikan. Hampir setiap hari ada ibu-ibu yang datang kepada saya dan kepadamu untuk konseling. Hampir semuanya mengeluhkan tentang rumah tangga mereka yang katanya tidak bahagia. Dan dari mereka yang datang semuanya adalah para istri. Di mana suami mereka?”


Sebelum meneruskan kata-katanya, Pugag sudah menimpali: “Kalau yang datang kepada Pastor adalah para istri, berarti yang mengalami masalah adalah para istri tersebut. Si suami tidak pernah merasa bermasalah justru karena mereka yang menjadi sumber masalahnya.”
Pastor Sadi tertawa mendengar kepolosan anak muda yang sudah membantunya cukup lama itu.

“Makanya saya katakan bahwa dengan menjadi imam, saya telah membahagiakan seorang wanita.” Lanjut Pastor Sadi. “Kalau saya menikah berarti telah menambah satu perempuan lagi yang akan datang kepada Pastor dan mengadukan ketidakbaikan saya.”

* * *

Dua "aku" tertawa.
Kemudian hening.
(…)


END

Agustus 02, 2008

Ibadat Harian: Perayaan hidup dalam Kristus


Liturgi Ibadat Harian merupakan suatu bentuk penyucian diri dan hidup dengan cara mengarahkan hati kepada Allah sepanjang seluruh hari. Melalui Ibadat Harian, saat-saat hidup manusia merupakan peristiwa berharga yang mempertemukan antara kehendak Allah dan tanggapan manusia atas kehendak Allah tersebut. Manusia sebagai bangsa imam (1 Ptr 2:9), melalui pembaptisan, turut berpartisipasi dalam hidup Kristus untuk mempersembahkan kurban pujian dan ucapan syukur kepada Bapa atas karya-karya penyelamatan-Nya. Oleh sebab itu, seluruh perayaan liturgi merupakan perayaan atas karya penyelamatan Allah dalam Kristus, yang salah satunya dirayakan dalam Ibadat Harian.

Ibadat Harian merupakan peristiwa simbolis atas karya penyelamatan Allah. Melalui liturgi Ibadat Harian, umat beriman kristiani mewartakan imannya, sekaligus menjalankan misinya untuk mewartakan Kristus dan karya penyelamatan-Nya kepada dunia. Di samping itu, umat beriman kristiani juga menyampaikan pujian dan ucapan syukurnya atas rahmat penyelamatan tersebut. Dengan demikian, perayaan akan karya penyelamatan Allah ini merupakan perayaan hidup dalam Kristus karena liturgi, termasuk liturgi Ibadat Harian, bukan hanya pengenangan yang menghadirkan (anamnesis) tetapi juga imitasi (mimesis) akan doa Kristus sendiri.

Ibadat Pagi dan Ibadat Sore, sebagai dwi-sendi Ibadat Harian (PIH 37) dan ibadat yang paling utama (SC 89), memberi arti penting terhadap makna kristologis ini. Melalui kedua ibadat tersebut, waktu dialami sebagai peristiwa keselamatan yang erat terkait dengan wafat dan kebangkitan Kristus. Kedua ibadat ini merupakan inti dan bagian terpenting dari seluruh Ibadat Harian karena merangkum seluruh hari, “Dari terbit matahari sampai kepada terbenamnya matahari terpujilah nama Tuhan” (Mzm 113:3). Melalui penyucian pada awal dan akhir hari, waktu dan sejarah manusia ditransendensi sebagai sejarah keselamatan (chronos menjadi chairos). Dalam liturgi Ibadat Harian, waktu ditransformasi menjadi peristiwa, yaitu penampakkan Kerajaan Allah. Di samping itu, seluruh ciptaan adalah sakramen kosmik atas karya penyelamatan Allah, dan Gereja menggunakan simbol waktu ini dalam Ibadat Harian, dimana segala sesuatu dipulihkan dan disatukan dalam Kristus (Ef 1:10). Maka segala sesuatu, termasuk pagi dan sore, siang dan malam, terbitnya matahari dan terbenamnya, menjadi sarana untuk berkomunikasi dengan Allah: “Langit menceritakan kemuliaan Allah dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya” (Mzm 19:2).

Maka Ibadat Harian merupakan doa Kristus sekaligus doa Gereja dalam rangka memuliakan Allah dan menyucikan manusia, termasuk menyucikan seluruh hari dan segala aktivitas manusia yang ada di dalamnya. Dengan merayakan Ibadat Harian, berarti kita turut berpartisipasi dalam hidup Kristus dan seluruh anggota tubuh-Nya untuk menyerahkan diri sepenuh-penuhnya kepada Bapa dalam Roh Kudus. Melalui Ibadat Harian kita menyerukan datangnya Roh Kudus (epiklesis) agar Ia mempersatukan persembahan diri kita yang tidak pantas ini dengan persembahan Yesus Kristus, yang secara mengagumkan tampak dalam misteri salib-Nya. Penyerahan diri kita kepada Allah ini pertama-tama bukan untuk mendapatkan pahala di mana kita mengharapkan balasan dan kebaikan Allah atas segala doa dan permohonan kita, melainkan semata-mata karena cinta kasih Allah kepada manusia. Penyerahan diri secara kristiani selalu berpangkal pada realitas kasih Allah yang tampak dalam peristiwa persembahan salib Kristus: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup kekal” (1 Yoh 4:10). Allah telah terlebih dahulu mengasihi manusia dan mengambil tindakan pertama untuk menyelamatkan manusia. Oleh sebab itu, liturgi menjadi perayaan kenangan akan cinta kasih Allah dalam Kristus sehingga seluruh doa kita akhirnya adalah doa dalam kesatuan dengan persembahan dan pujian Kristus kepada Bapa dalam Roh Kudus.

Kehidupan kristiani merupakan pada akhirnya merupakan transformasi hidup yang terus-menerus dalam rangka mengikuti Kristus untuk semakin menyerupai-Nya. Santo Paulus menulis kepada jemaat di Galatia: “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan aku sendiri lagi yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku” (Gal 2:19-20). Dengan demikian, tujuan seluruh pendalaman rohani dan pengembangan spiritualitas umat beriman kristiani merupakan “perjalanan” untuk semakin menyerupai Kristus dan bersatu dengan-Nya.

Panggilan hidup etis



Sebagai makhluk yang hidup di tengah dunia bersama dengan yang lain, manusia dengan sendirinya dihadapkan pada tuntutan etis yang mengarahkan hidup sosial mereka pada hubungan yang harmonis dan dinamis. Tuntutan etis itu diperlukan supaya masing-masing pribadi manusia menjadi subjek sosial yang memiliki peranan khas bagi komunitas sosialnya. Melalui tuntutan etis, manusia diharapkan mampu saling mengaktualisasikan diri sesuai dengan peran dan citranya, sekaligus saling menghargai keluhuran martabat masing-masing pribadi. Oleh sebab itu, dalam kacamata iman kristiani tindakan hidup etis dan moral harus dipahami sebagai panggilan hidup.

Kiblat panggilan etis umat beriman kristiani adalah Kristus sendiri karena Ia adalah figur dan norma tertinggi moral. Melalui kehidupan yang menyerupai Kristus, umat kristen mempercepat kedatangan Kerajaan Allah, kerajaan keadilan, cinta kasih, dan perdamaian. Maka kita bukan hanya dipanggil untuk mewartakan Kristus, tetapi juga dipanggil untuk menjalankan praktik cinta kasih sebagai salah satu cara untuk turut serta dalam karya keselamatan-Nya. Kita tidak hanya berkata-kata tentang siapa itu Yesus Kristus, tetapi juga menjalankan hidup sesuai dengan ajaran dan teladan-Nya. Melalui kehidupan yang menyerupai Kristus ini kita dipanggil untuk turut serta dalam karya penciptaan Allah dalam rangka mewujudkan Kerajaan Allah di dunia ini. Hal ini berarti kita dipanggil untuk menciptakan dunia ini secara kreatif, menjadi seorang seniman yang mencipta dalam bimbingan Allah, Sang Pencipta Agung, sehingga dunia ini sungguh dirasakan sebagai dunia yang menyenangkan dan membahagiakan.

Panggilan hidup etis ini erat terkait dengan liturgi. Relasi manusia dengan Allah erat terkait dengan relasi manusia dengan sesamanya karena barang siapa mengaku bahwa ia mencintai Allah, tetapi membenci saudaranya ia adalah pendusta (1 Yoh 4:20-21). “Bukan orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga” (Mat 7:21). Maka tatanan hidup etis umat beriman kristiani merupakan nilai-nilai akan pengalaman hidup bersama dengan yang lain di mana orang lain dipandang sebagai sarana pewahyuan Allah dalam sejarah. Orang lain adalah citra Allah. Inilah panggilan bagi umat kristiani, yaitu undangan untuk menggapai keanggunan hidup, di mana orang lain dialami dalam kacamata iman sebagai perwujudan rahmat. Maka hidup etis merupakan tanggapan atas rahmat untuk memberdayakan dan mentransformasi rahmat tersebut. Essensi panggilan hidup etis ini bukan pertama-tama tugas, melainkan undangan untuk mengucap syukur atas anugerah yang diterima dan menghadirkannya dalam perayaan.

Tuntutan etis dipandang sebagai panggilan hidup jika sesama dialami sebagai anugerah. Sesama adalah anugerah Allah, yaitu pemberian atau rahmat yang memampukan kita untuk bekerjasama dalam membangun tatanan hidup yang sesuai dengan kehendak-Nya. Di samping itu, orang lain juga merupakan pribadi yang menjadi bagian integral dari pertumbuhan hidup seseorang. Ketika sesama kita anggap sebagai anugerah, maka mereka dapat membantu kita untuk mentransendensi diri sehingga menuntun kita pada tanggapan bebas untuk menerima mereka sebagai anugerah. Dengan demikian, hidup bersama dengan yang lain memiliki potensi bagi transformasi.

Juli 28, 2008

Tentang Misi

Mulanya…

Manusia menyadari bahwa ia rapuh, terbatas, penuh penderitaan, dan hidup dalam kedosaan. Oleh sebab itu, dalam kesadaran akan keterbatasannya manusia merindukan Yang Tak Terbatas. Dalam berbagai kultur dan bangsa ada banyak sebutan terhadap Yang Tak Terbatas ini. Suku bangsa Israel menyadari Yang Tak Terbatas itu sebagai Yahwe, satu-satunya Allah yang benar. Dalam konteks Sunda ada sebutan Sang Hyang Widi, Gusti Nu Murbawisesa.

Ungkapan kerinduan manusia ini tidak bertepuk sebelah tangan karena Yang Tak Terbatas pun merindukan keselamatan atas manusia. Ia kemudian mewahyukan diri dalam sejarah keselamatan. Pertama-tama sebagai Allah. Allah Bapa mengutus Putra, kemudian Bapa bersama Putra mengutus Roh Kudus, dan kini Roh Kudus berkarya dalam Gereja dan mengutus Gereja untuk berkarya dalam dunia. Semuanya ini terjadi hanya karena Cinta Allah yang tanpa pamrih; agape. Cinta Allah itu cuma-cuma, rahmat.

Lantas…

Gereja sungguh merasakan cinta Allah ini. Kerinduan manusia akan keselamatan mendapat jawabannya dari Allah. Allah adalah satu-satunya kehidupan dan kekuatan; asal dan tujuan segala cinta. Terdorong atas kebahagiaan dan atas pernyataan diri Allah yang mencintai manusia, Gereja mau berbagi kebahagiaan dengan seluruh umat manusia di bumi. Gereja mewartakan keselamatan Allah dalam diri Kristus.

Gereja mempunyai misi untuk membawa Kritus (Christophorus) kepada seluruh dunia. Dalam misi ini yang pertama kali dilakukan Gereja adalah mewartakan Kristus sebagai satu-satunya penyelamat dan berusaha untuk mempertobatkan orang supaya mau dibaptis. Baptis menjadi sesuatu yang penting. Dasarnya adalah sabda Yesus sendiri: “Pergilah ke seluruh dunia, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” (Mat 28:18).

Tetapi kemudian seiring perkembangan zaman, misi Gereja beralih dari membaptis kepada pewartaan akan kebenaran. Membawa Kristus tidak melulu hanya dengan membaptis, tetapi pertama-tama sungguh-sungguh menggarami supaya dalam Kritus seluruh umat manusia menjadi one-earth community; menjadi satu keluarga umat Allah. Alasan misioner terletak pada kehendak Allah sendiri yakni “supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan tentang kebenaran. Sebab Allah itu esa, dan esa pula pengantara antara Allah dan manusia, yakni manusia Kristus Yesus, yang telah menyerahkan diriNya sebagai tebusan bagi semua orang” (Ad Gentes 7). Maka baptis merupakan buah dari misi mewartakan kebenaran ini, bukan sebagai tujuan.

Puncak misi adalah martyria. Martiria adalah bentuk cinta yang habis-habisan; cinta yang tuntas. Karena terbakar oleh cinta Kristus, umat beriman kristiani rela mati sebagai martir. Pengorbanan besar ini bukan demi kemuliaan pribadi, tetapi demi kemuliaan Kristus sendiri. Ad Maiorem Dei Gloriam. Banyak martir-martir besar yang rela mempersembahkan hidupnya demi mempertahankan iman dan kebenarannya dalam Kristus, banyak para martir yang darahnya menjadi tertumpah di tanah misi. Itu semua demi kemuliaan Allah sendiri. Contoh-contoh sederhana dari martiria ini adalah Santo Dionisius dan Redemptus yang meninggal ketika menjalankan misi di tanah Aceh, meninggalnya para Krosier di tanah Congo, baru-baru ini juga meninggalnya seorang Krosier di lumpur Asmat karena boat-nya meledak, dan sebagainya.

Akhirnya…

Gereja dengan suka cita mewartakan Allah yang tak kelihatan menjadi kelihatan dalam karya-karnyaNya. Dengan kata lain, Gereja berusahan mewartakan dan memuliakan yang tak kelihatan (no form) menjadi kelihatan (formed).

Buah misi adalah terciptanya Kerajaan Allah. Gereja bersama dengan dunia terus berziarah menuju kesempurnaannya sehingga suka, penderitaan, dan pengaharapan dunia menjadi suka, penderitaan, dan pengaharapan Gereja. Misi adalah bentuk glorifikasi manusia terhadap Allah. Karena Gereja tersergap oleh inisitif cinta Allah, maka Gereja menyambut cinta kasih Allah tersebut dengan suka cita yang besar dan tak henti-hentinya bergabung bersama para malaikat untuk memuliakanNya.

Semerbak kemuliaan ini disebarkan ke seluruh dunia. Dan buah rahmatnya adalah sanctifikasi. Lagi-lagi, Gereja, seturut dengan dorongan Roh Kudus, menghendaki supaya kekudusan ini dapat dinikmati oleh seluruh umat lainnya. Dengan demikian, Gereja bersama seluruh dunia merupakan wujud dari Kerajaan Allah, sekaligus antisipasi atas kepenuhannya dlam parausia.